Archive for the ‘ MeLaLi ’ Category

Dari Ujung Tanjung Benoa Bali

Tanjung Benoa adalah sebuah daratan yang menjorok ke tengah laut yang berada di sebelah tenggara pulau Bali bersebelahan dengan Nusa Dua. Daerah ini terkenal dengan wisata watersport-nya seperti parasailing, jetski, banana boat, flying fish. Kecuali surfing, karena ombaknya relatif tenang, jadi tidak cocok sebagai tempat surfing.

Di sepanjang pesisir pantai Tanjung Benoa ini telah dipenuhi oleh bangunan hotel bintang lima, dan berbagai sarana penunjang pariwisata, termasuk banyak sekali penyedia jasa wisata tirta (watersport). Di ujung pulau ini terdapat area menyerupai dermaga tempat berlabuhnya kapal boat dan terdapat pula SPBU pengisian bahan bakar kapal boat. Dari sini kita juga dapat melihat kapal-kapal yang berlabuh di kawasan pabean Benoa. Karena tanjung ini menghadap ke utara, maka dari pantai ini kita dapat melihat pemandangan sunset di sore hari sekaligus menyaksikan sunrise di pagi hari. Sayangnya saya tidak dapat melihat kedua-duanya, karena saya ke sana agak siang. :) (KomangWiratma™)

Jalan-Jalan ke Tengah Sawah di Jatiluwih

Jatiluwih merupakan daerah hamparan sawah berundak-undak (terasering) yang sangat luas, yang terletak di Penebel, Tabanan, Bali. Saking luasnya, area persawahan ini sempat dinominasikan sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (UNESCO World Heritage). Sumber airnya dari beberapa bendungan dengan menggunakan sistem tradisional Subak.

Memasuki daerah Jatiluwih yang berhawa sejuk dari kejauhan kita akan menyaksikan pemandangan sawah nan indah dengan latar belakang gunung Batukaru. Di pinggiran jalan kita jumpai sungai dengan air yang sangat jernih dan dingin. Tempat ini sangat pas buat foto-foto dan aku juga sempat mengabadikannya lewat video. (KomangWiratma™)

Eksotisme Air Terjun Nungnung

Hari minggu agak mendung menjadikan suasana sejuk. Terlintas di pikiran untuk bisa merasakan suasana yang sama di tempat yang alami, bisa di pegunungan atau di mana saja yang penting menyenangkan. Teringat cerita salah seorang teman yang pernah mengunjungi air terjun di Kecamatan Petang, Badung. Kelihatannya seru. Lalu aku searching sebentar di mbah google, ternyata lokasinya di Desa Nungnung, Petang, Badung. Pagi jam sembilan aku isi bensin motor mioku dulu sampai penuh, biar nggak mogok di jalan, maklum boros, lanjut melaju melalui desa Peguyangan terus ke utara.

Desa Nungnung terletak kurang lebih 40 kilometer dari kota Denpasar, perjalanan melewati areal persawahan dan hutan, sangat menyenangkan. Setelah memasuki desa Nungnung aku memperlambat laju motorku dan di sebelah kiri jalan terlihat papan penunjuk arah menuju air terjun Nungnung / Nungnung waterfall, lanjut melaju ke arah kanan kurang lebih 600 meter. Harga tiket masuknya Rp. 3000,- untuk sepeda motor. Setelah parkir motor, lanjut perjalanan menuruni ratusan anak tangga yang berlumut dengan pegangan besi yang sudah keropos. Anak tangganya sangat curam, bahkan ada yang memiliki kemiringan sekitar 75 derajat, kalau turun mesti pegangan, ngeri kelihatannya.

Akhirnya sampai juga pada air terjunnya, awalnya tampak air terjun kecil, di sebelahnya baru terlihat air terjun besar yang memiliki ketinggian kurang lebih 70 meter dari permukaan tanah. Arus airnya saat itu lumayan kencang, hembusan air terjun membasahi tubuh. Untuk mengambil foto pun mata kamera harus sedikit ditutupi tangan agar lensanya tidak terkena hembusan air terjun. Mulailah aku beraksi mengambil gambar air terjun dari berbagai sisi, kebetulan saat itu tidak terlalu ramai, jadi aku bisa mengambil gambar dengan leluasa. Benar-benar mempesona, suara gemericik air yang menghantam bebatuan, hembusan udara sejuk menyelimuti tubuh, dan aliran air dingin melintasi kaki, begitu eksotis.

Waktunya untuk kembali, dan harus menaiki anak tangga yang jumlahnya ratusan itu. Tentunya lebih susah daripada pas menuruninya. Namun anda tidak perlu khawatir, di sepanjang anak tangga disediakan beberapa buah gazebo (bale bengong) sebagai tempat peristirahatan. Sungguh berat rasanya, dan di setiap gazebo aku butuh istirahat, sampai malah sempat tertidur, saking enaknya. Nice trip ! (koming)

Asyiknya Menyusuri Hutan Mangrove

Liburan hari minggu kali ini saya habiskan dengan berjalan-jalan menikmati keindahan hutan mangrove di Desa Suwung Kauh, Denpasar Selatan. Hutan ini berlokasi di tengah kota, kurang dari satu kilometer sebelum Mall Bali Galleria / Simpang Dewa Ruci kalau dicari dari arah Sanur. Di sebelah kiri jalan akan terlihat papan nama bertuliskan ‘The Mangrove Information Centre’.

Menelusuri hutan mangrove dapat kita lalui dengan berjalan kaki menyusuri mangrove trail (jembatan kayu) sepanjang kurang lebih 2 km, yang disekelilingnya tentu saja terdapat pohon mangrove yang rindang. Memasuki hutan ini kita akan merasakan suasana sejuk, sunyi, bebas dari hiruk pikuk perkotaan, bau lumpur laut yang khas, suara burung dan binatang air, membuat suasananya berbeda dari tempat-tempat lain. Orang-orang yang melakukan aktivitas memancing dapat kita jumpai di sini, meskipun tidak begitu banyak. Dan ciri khas yang selalu ada di setiap obyek wisata di Indonesia adalah sampah yang berserakan dan coretan-coretan tangan-tangan jail.

Di tempat ini kita akan melihat beberapa fasilitas seperti tempat persemaian bibit mangrove, kolam sentuh yang merupakan media pembelajaran untuk dapat berinteraksi langsung dengan binatang seperti kepiting, ikan, dan hewan molusca lainnya. Menara pengamat setinggi kurang lebih 10 meter sebagai tempat untuk melihat hutan mangrove dari ketinggian, tempat peristirahatan, dan dermaga di pinggir pantai. (KomangWiratma™)

Pantai Suluban… Kereeennn

Pantai Suluban terletak di dekat pura uluwatu, begitu mulai masuk area pura lalu belok ke kanan. Suluban berasal dari kata ’sulub’ yang berarti berjalan melalui/di bawah sesuatu. Dan benar, untuk memasuki area pantai kita harus memasuki sebuah goa, dan setelah melewatinya kita langsung akan melihat hamparan pantai berpasir putih nan luas. Apalagi jika sore hari, akan tampak panorama sunset dengan langit yang berwarna kemerahan.

Untuk menuju ke pantai, kita harus menuruni beberapa anak tangga. Pantai Suluban dikelilingi oleh tebing-tebing yang tinggi, berpasir putih dengan butiran kasar. Area pasirnya tidak begitu luas, sehingga jika air laut pasang kita akan kesulitan masuk ke pantai. Ombaknya yang tinggi merupakan surga bagi peselancar. Banyak sekali terutama orang asing yang berselancar di sana. Panorama yang menawan menjadikannya sebagai tempat yang elok untuk kegiatan fotografi. Tampaknya belum banyak yang mengetahui keberadaan pantai ini, karena jumlah pengunjungnya tidak begitu ramai. Meskipun tidak setenar pantai Kuta atau Sanur, tapi bagi saya Pantai Suluban yang paling kereeennnn…!! (*koming)

Merasakan Hutan Modern di Taman Safari


Pas liburan bingung harus kemana, tiba-tiba terlintas keinginan untuk jalan-jalan melihat binatang. Di sekitar dekat kota Denpasar ada tiga pilihan, yaitu di Bali Bird Park, Bali Zoo, dan Bali Safari & Marine Park, ketiganya berlokasi di Kabupaten Gianyar dan kebetulan dekat dari Sanur. Menurut informasi dari teman-teman yang sudah pernah ke sana, Bali Safari & Marine Park adalah tempat yang paling bagus meskipun dengan harga tiket masuk yang lebih mahal. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sana. Lokasinya di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra, Gianyar, kurang lebih 17 km dari Denpasar. Tempat ini berada di tiga desa yakni, Desa Lebih, Desa Serongga, dan Desa Medahan, dengan luas area mencapai 40 hektar. Harga tiket masuknya untuk orang lokal Rp. 75.000 per orang dan kebetulan pada saat itu ada diskon khusus untuk orang Bali karena bertepatan dengan hari raya Hindu, jadi harga tiket masuk yang saya bayar adalah Rp. 50.000 saja.

Memasuki area Bali Safari & Marine Park kita disuguhi berbagai toko yang menjual suvenir, ada juga restoran taman bermain anak, dan kolam ikan. Kita juga dibekali peta area Bali Safari & Marine Park yang didesain menyerupai peta para petualang. Dengan berjalan kaki saya memasuki beberapa tempat binatang yang dibuat agar terlihat bahwa binatang tersebut dibiarkan terlihat bebas berjalan-jalan. Seperti binatang harimau putih yang bebas berkeliaran pada satu area, padahal di sekelilingnya diitari kolam yang tidak memungkinkan harimau tersebut melewatinya. Selanjutnya kita juga dapat melihat gajah, memberinya makan, atau ikut foto bersama. Kita juga dapat menunggangi gajah atau kuda poni berkeliling area persawahan. Selain itu ada juga orang utan yang lucu dan kita juga bisa berfoto bersamanya. Binatang-binatang yang dapat berinteraksi langsung dengan pengunjung hanya binatang yang rata-rata masih berumur muda (anak harimau, anak gajah, anak orang utan) dan tampaknya mereka sudah benar-benar terlatih.

Perjalan dapat dilanjutkan dengan menaiki mobil bis khusus yang nanti pintunya akan terkunci dari luar. Petualangan pertama memasuki area binatang jinak seperti sapi, kuda, burung hantu, burung onta, burung jalak dan semakin jauh kita akan diperlihatkan dengan binatang yang lebih buas. Binatang buas dibuatkan area khusus yang dapat dimasuki melewati pintu khusus yang tertutup. Di sini kita bisa melihat binatang seperti zebra, kuda nil, buaya, babon, badak, singa. Selama perjalanan kita ditemani oleh pemandu di dalam bis. Di area ini terdapat restoran yang dikelilingi dinding kaca yang menampakkan seolah-olah kita makan dikelilingi oleh harimau. Selain itu terdapat pula penginapan seperti di tengah hutan. Binatang-binatang ini tampaknya juga sudah sangat terlatih dan tidak bertingkah seperti binatang liar. Setelah melalui perjalan mengelilingi hutan, kita dapat menyaksikan animal show seperti elephant show, bird show, dan orang utan show. Selain pertunjukan binatang, kita juga bisa menyaksikan pertunjukan budaya seperti tari kecak atau tari barong.

Setelah berkeliling, sebelum pulang saya membeli kenang-kenangan di sana. Banyak sekali ada toko cenderamata, namun semuanya menjual barang yang seragam. Yang ada hanya boneka, baju, topi, patung, dan mainan anak-anak, yang bernuansa taman safari tentunya. Puas rasanya berkeliling selama hampir lima jam di taman safari, dan pas pulangnya tidak lupa mampir makan sate di pantai Lebih. (koming)

Berawal dari keingintahuan bahwa Bali kata orang memiliki jembatan tertinggi di Asia, maka aku melakukan trip ke Jembatan Tukad Bangkung = jembatan tertinggi di asia ? Jembatan ini berlokasi di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Setelah mengunjungi air terjun Nungnung aku melanjutkan perjalanan ke tempat ini.

Jembatan Tukad Bangkung diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006 silam, dengan menandatangani batu prasasti yang diletakkan sebelum memasuki jembatan. Jembatan ini dibangun sejak tahun 2001, dan menghabiskan dana 49 Milyar Rupiah. Ketinggiannya mencapai 71 meter, dengan panjang 360 meter dan lebar 9,6 meter. Jembatan menghubungkan 3 kabupaten sekaligus, yakni, Kabupaten Badung, Bangli dan Buleleng, dan merupakan jembatan terpanjang di Bali. Di setiap ujung jembatan berjejer warung makanan dan merupakan tempat yang pas untuk menyaksikan gagahnya jembatan Tukad Bangkung.

Tidak banyak yang bisa diceritakan dari jembatan ini, mungkin beberapa jepretan foto bisa bercerita lebih banyak. Apakah ini jembatan tertinggi di Asia ? (koming)

Jogging di Desa Budaya Kertalangu Denpasar

Bangun pagi-pagi berencana olah raga pagi, biasanya saya olahraga jogging di Lapangan Renon, di Pantai Sanur, atau di jogging track Desa Budaya Kertalangu Kesiman Denpasar. Kali ini saya memilih berjogging ria di Desa Kertalangu, karena sudah agak lama saya tidak kesana karena lebih sering berolahraga di Lapangan Renon. Berlokasi di pinggir Jalan Raya By Pass Ngurah Rai Tohpati dan Jalan By Pass Ida Bagus Mantra tempat ini sengaja dibangun oleh Pemkot Denpasar sebagai salah satu alternatif tempat wisata di tengah Kota Denpasar.

Memasuki areal jogging track diawali dengan berjejernya artshop-artshop yang menjual cenderamata, dan disana juga diperlihatkan perajin-perajin yang membuat langsung barang cenderamata, seperti membuat kerajinan dari kayu, bambu, batu, gelas, dan lilin. Setelah melewatinya kita langsung sampai pada hamparan sawah yang cukup luas untuk daerah perkotaan seperti Denpasar ini. Di tengah areal sawah ini dibangun jogging track dari beton berlebar kurang lebih dua meter. Pagi-pagi belum banyak orang yang berolah raga, jadi saya bisa lari-lari kecil, soalnya lebar track tidak terlalu luas, apalagi disepanjang kanan kirinya adalah sawah yang pada saat itu ada genangan airnya, juga sungai yang selalu dialiri air. Kalau suasananya ramai susah rasanya bisa lari-lari, jadi cukup jalan-jalan saja. Selama perjalanan menyusuri sawah kita dapat melihat petani bekerja langsung di tengah sawah, mencangkul, mengusir burung, dan dapat berkomunikasi langsung dengan mereka. Di tengah sawah juga disediakan tempat peristirahatan berupa bangunan gazebo.

Di akhir track menuju areal parkir disediakan beberapa warung yang menjual berbagai makanan dan snack khas bali. Terdapat juga kolam pancing, restoran, spa, dan area mini untuk bermain. Di sini disediakan banyak gazebo sebagai tempat menikmati santapan.

Pantai Balangan : Another View Point

Wilayah pesisir di sepanjang jalur Pecatu – Uluwatu merupakan kawasan pantai berpasir putih yang tersembunyi terhalang oleh tebing-tebing yang menjulang tinggi yang menjadi ciri khas eksotisme pantai di wilayah ini. Ombak yang besar merupakan surga bagi penghobi selancar dan pantai-pantai ini selalu dikunjungi oleh peselancar dari seluruh penjuru dunia. Deretan pantai bertebing ini dimulai dari Pantai Balangan, diteruskan dengan Pantai Dreamland, Pantai Labuan Sait (Padang-padang), Pantai Suluban, hingga Pantai Uluwatu yang paling ujung.

Pantai Balangan dapat ditempuh melalui perjalanan melewati kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) pada simpang empat belok ke kanan dan selanjutnya kita akan menyusuri jalan berkelok-kelok agak naik turun dan lumayan jauh. Sesampainya di pantai, kita akan melihat beberapa penginapan semi permanen yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Selanjutnya kita akan menuruni beberapa anak tangga, yang dari anak tangga ini kita sudah dapat melihat view Pantai Balangan dari atas, yang akan terlihat deretan pohon kelapa yang tertata rapi mengawali pemandangan Pantai Balangan dengan langit berwarna kemerahan  dalam balutan indahnya sunset di senja hari.

Hanya terdapat beberapa gelintir wisatawan yang terlihat di sini, mungkin karena lokasinya yang agak jauh dijangkau. Begitu juga warung-warungnya hanya beberapa buah saja. Pantainya berpasir putih dengan butiran kasar, dan di pesisir bibir pantai terdapat cukup banyak batu-batu kecil, jadi kalau jalan mesti hati-hati. Ombak yang besar tampaknya membuat sedikit orang untuk berani mandi di sini, dan tampaknya lebih banyak wisatawan yang bermain surfing di tengah laut. Pengunjung lebih banyak hanya menikmati pantai dengan berfoto-foto atau membuat rekaman video. Pantai Balangan adalah salah satu view point untuk menyaksikan eksotisme matahari terbenam, dari sudut capture yang berbeda. (*koming)

Uluwatu (english version)

Uluwatu Temple is one of six sacred Temple in Bali. The location is dramatic, perched on the edge of a high cliff with a picturesque sunset view. The temple was first used for worship by an 11th century priest, Empu Kuturan, who came to Bali to bring religious law and to form traditional villages.

The temple is inhabited by large number of monkeys, who are extremely adept at snatching visitors’ belonging, including bags, cameras and eyeglasses. Keep a very close grip on all your belongings and stow away your eyeglasses if at all possible. If you do have something taken, the monkeys can usually be induced to exchange it for some fruit.

Uluwatu is a well known destination among surfing enthusiasts. Most of the surf spots are only suitable for advanced or expert surfers. Being a popular surfing spot for the very experienced, Uluwatu offers a wonderful vantage point to view a spectacular sunset. Warungs or small restaurants perched on the cliff offer a comfortable spot to survey the vast Indian Ocean beyond and below the 100-meter-high cliffs with panorama on three sides.