Setelah sekian lama tidak melakukan tirta yatra, akhirnya sekarang rombongan kantorku melakukan tirta yatra ke Pura Pasar Agung. Pura ini terletak di Selat, Karangasem. Perjalanan dimulai pukul 12 siang, lalu singgah sebentar di Pasar Klungkung santap siang sate + gulai kambing. Rombongan dua mobil lalu melanjutkan perjalanan dan sesampainya di bukit jambul singgah sebentar buat foto-foto, kali aja ada yang pas buat ganti foto profile facebook.
Jam setengah tiga akhirnya sampai di pelataran parkir Pura Pasar Agung, meskipun sebelumnya sempat nyasar dikit . Ngopi dulu sebentar sebelum menaiki ratusan anak tangga, sekalian untuk melawan kabut dingin yang mulai merasuki tubuh. Satu demi satu anak tangga kulangkahi dengan penuh semangat sampai meninggalkan rombongan lain di bawah. Setelah sampai di atas baru mulai ngos-ngosan serasa mau pingsan kehabisan nafas. Untunglah ada bale tempat rebahan di sana.
Dari Pura ini kita bisa melihat puncak Gunung Agung dengan sangat jelas. Tebing-tebing yang terjal dengan pepohonannya terlihat begitu jelas. Dari pura ini juga bisa sebagai start point untuk melakukan pendakian ke puncak gunung agung yang bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 4 jam. Lokasinya yang dekat dengan puncak gunung membuat pura ini selalu diselimuti kabut dingin. Serasa seperti melayang, karena kita bisa melihat suasana di daratan bawah sana dari balik awan.
Di daerah Ujung, Desa Tumbu, Karangasem kita bisa melihat sebuah water palace bekas peninggalan raja karangasem yang konon dulunya sebagai tempat peristirahatan kalangan istana dan sebagai tempat menjamu tamu dari luar istana. Sekarang tempat ini lebih dikenal dengan nama Taman Ujung atau Taman Sukasada.
Tempat ini memiliki area yang sangat luas memiliki beberapa kolam air yang ditengahnya terdapat bangunan yang dihubungkan oleh jembatan menuju sisi kolam. Suasanya begitu nyaman dan tidak begitu ramai dikunjungi orang. Corak bangunannya merupakan akulturasi arsitektur gaya Eropa dan arsitektur Bali. Namun kesan bangunan kunonya sudah tidak tampak lagi karena sudah mengalami beberapa kali pemugaran. Dulu bangunan ini sempat rusak akibat gempa dan gunung meletus.
Dari kompleks tertinggi yang menyerupai bangunan seperti benteng, kita bisa melihat taman ujung secara keseluruhan dari atas. Kita juga bisa melihat pemandangan pantai dari kejauhan, dan gunung yang disekitarnya dikelilingi sawah yang menghijau. Tampaknya hanya bangunan ini saja yang masih dibiarkan seperti aslinya, meskipun struktur bangunannya tidak lengkap dan terdapat beberapa bagian yang sudah retak.
Pantai Tegalwangi merupakan pantai sempit yang terletak di kawasan Jimbaran. Lokasinya di arah menuju bekas hotel Ritz Carlton ke arah Pura Tegalwangi, ikuti saja papan penunjuk jalan. Tepat di depan Pura Tegalwangi kita akan melihat pantai dari atas bukit. Untuk menuju ke pantai kita harus turun melewati jalan setapak yang agak curam, jadi mesti hati-hati. Di sini belum ada anak tangga, mungkin karena bukan objek wisata.
Pantai ini memiliki tebing-tebing tinggi sama seperti Pantai Dreamland dan kebanyakan pantai di daerah perbukitan lainnya. Ombaknya besar, berpasir putih kasar dan terdapat beberapa batu karang besar di pesisir pantai. Hanya ada tidak lebih dari sepuluh orang pengunjung di sana, dan kebanyakan mereka adalah fotografer yang sedang membuat foto dan video pre-wedding. KomangWiratma™
Tanjung Benoa adalah sebuah daratan yang menjorok ke tengah laut yang berada di sebelah tenggara pulau Bali bersebelahan dengan Nusa Dua. Daerah ini terkenal dengan wisata watersport-nya seperti parasailing, jetski, banana boat, flying fish. Kecuali surfing, karena ombaknya relatif tenang, jadi tidak cocok sebagai tempat surfing.
Di sepanjang pesisir pantai Tanjung Benoa ini telah dipenuhi oleh bangunan hotel bintang lima, dan berbagai sarana penunjang pariwisata, termasuk banyak sekali penyedia jasa wisata tirta (watersport). Di ujung pulau ini terdapat area menyerupai dermaga tempat berlabuhnya kapal boat dan terdapat pula SPBU pengisian bahan bakar kapal boat. Dari sini kita juga dapat melihat kapal-kapal yang berlabuh di kawasan pabean Benoa. Karena tanjung ini menghadap ke utara, maka dari pantai ini kita dapat melihat pemandangan sunset di sore hari sekaligus menyaksikan sunrise di pagi hari. Sayangnya saya tidak dapat melihat kedua-duanya, karena saya ke sana agak siang. (KomangWiratma™)
Jatiluwih merupakan daerah hamparan sawah berundak-undak (terasering) yang sangat luas, yang terletak di Penebel, Tabanan, Bali. Saking luasnya, area persawahan ini sempat dinominasikan sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (UNESCO World Heritage). Sumber airnya dari beberapa bendungan dengan menggunakan sistem tradisional Subak.
Memasuki daerah Jatiluwih yang berhawa sejuk dari kejauhan kita akan menyaksikan pemandangan sawah nan indah dengan latar belakang gunung Batukaru. Di pinggiran jalan kita jumpai sungai dengan air yang sangat jernih dan dingin. Tempat ini sangat pas buat foto-foto dan aku juga sempat mengabadikannya lewat video. (KomangWiratma™)
Hari minggu agak mendung menjadikan suasana sejuk. Terlintas di pikiran untuk bisa merasakan suasana yang sama di tempat yang alami, bisa di pegunungan atau di mana saja yang penting menyenangkan. Teringat cerita salah seorang teman yang pernah mengunjungi air terjun di Kecamatan Petang, Badung. Kelihatannya seru. Lalu aku searching sebentar di mbah google, ternyata lokasinya di Desa Nungnung, Petang, Badung. Pagi jam sembilan aku isi bensin motor mioku dulu sampai penuh, biar nggak mogok di jalan, maklum boros, lanjut melaju melalui desa Peguyangan terus ke utara.
Desa Nungnung terletak kurang lebih 40 kilometer dari kota Denpasar, perjalanan melewati areal persawahan dan hutan, sangat menyenangkan. Setelah memasuki desa Nungnung aku memperlambat laju motorku dan di sebelah kiri jalan terlihat papan penunjuk arah menuju air terjun Nungnung / Nungnung waterfall, lanjut melaju ke arah kanan kurang lebih 600 meter. Harga tiket masuknya Rp. 3000,- untuk sepeda motor. Setelah parkir motor, lanjut perjalanan menuruni ratusan anak tangga yang berlumut dengan pegangan besi yang sudah keropos. Anak tangganya sangat curam, bahkan ada yang memiliki kemiringan sekitar 75 derajat, kalau turun mesti pegangan, ngeri kelihatannya.
Akhirnya sampai juga pada air terjunnya, awalnya tampak air terjun kecil, di sebelahnya baru terlihat air terjun besar yang memiliki ketinggian kurang lebih 70 meter dari permukaan tanah. Arus airnya saat itu lumayan kencang, hembusan air terjun membasahi tubuh. Untuk mengambil foto pun mata kamera harus sedikit ditutupi tangan agar lensanya tidak terkena hembusan air terjun. Mulailah aku beraksi mengambil gambar air terjun dari berbagai sisi, kebetulan saat itu tidak terlalu ramai, jadi aku bisa mengambil gambar dengan leluasa. Benar-benar mempesona, suara gemericik air yang menghantam bebatuan, hembusan udara sejuk menyelimuti tubuh, dan aliran air dingin melintasi kaki, begitu eksotis.
Waktunya untuk kembali, dan harus menaiki anak tangga yang jumlahnya ratusan itu. Tentunya lebih susah daripada pas menuruninya. Namun anda tidak perlu khawatir, di sepanjang anak tangga disediakan beberapa buah gazebo (bale bengong) sebagai tempat peristirahatan. Sungguh berat rasanya, dan di setiap gazebo aku butuh istirahat, sampai malah sempat tertidur, saking enaknya. Nice trip ! (koming)
Liburan hari minggu kali ini saya habiskan dengan berjalan-jalan menikmati keindahan hutan mangrove di Desa Suwung Kauh, Denpasar Selatan. Hutan ini berlokasi di tengah kota, kurang dari satu kilometer sebelum Mall Bali Galleria / Simpang Dewa Ruci kalau dicari dari arah Sanur. Di sebelah kiri jalan akan terlihat papan nama bertuliskan ‘The Mangrove Information Centre’.
Menelusuri hutan mangrove dapat kita lalui dengan berjalan kaki menyusuri mangrove trail (jembatan kayu) sepanjang kurang lebih 2 km, yang disekelilingnya tentu saja terdapat pohon mangrove yang rindang. Memasuki hutan ini kita akan merasakan suasana sejuk, sunyi, bebas dari hiruk pikuk perkotaan, bau lumpur laut yang khas, suara burung dan binatang air, membuat suasananya berbeda dari tempat-tempat lain. Orang-orang yang melakukan aktivitas memancing dapat kita jumpai di sini, meskipun tidak begitu banyak. Dan ciri khas yang selalu ada di setiap obyek wisata di Indonesia adalah sampah yang berserakan dan coretan-coretan tangan-tangan jail.
Di tempat ini kita akan melihat beberapa fasilitas seperti tempat persemaian bibit mangrove, kolam sentuh yang merupakan media pembelajaran untuk dapat berinteraksi langsung dengan binatang seperti kepiting, ikan, dan hewan molusca lainnya. Menara pengamat setinggi kurang lebih 10 meter sebagai tempat untuk melihat hutan mangrove dari ketinggian, tempat peristirahatan, dan dermaga di pinggir pantai. (KomangWiratma™)
Pantai Suluban terletak di dekat pura uluwatu, begitu mulai masuk area pura lalu belok ke kanan. Suluban berasal dari kata ‘sulub’ yang berarti berjalan melalui/di bawah sesuatu. Dan benar, untuk memasuki area pantai kita harus memasuki sebuah goa, dan setelah melewatinya kita langsung akan melihat hamparan pantai berpasir putih nan luas. Apalagi jika sore hari, akan tampak panorama sunset dengan langit yang berwarna kemerahan.
Untuk menuju ke pantai, kita harus menuruni beberapa anak tangga. Pantai Suluban dikelilingi oleh tebing-tebing yang tinggi, berpasir putih dengan butiran kasar. Area pasirnya tidak begitu luas, sehingga jika air laut pasang kita akan kesulitan masuk ke pantai. Ombaknya yang tinggi merupakan surga bagi peselancar. Banyak sekali terutama orang asing yang berselancar di sana. Panorama yang menawan menjadikannya sebagai tempat yang elok untuk kegiatan fotografi. Tampaknya belum banyak yang mengetahui keberadaan pantai ini, karena jumlah pengunjungnya tidak begitu ramai. Meskipun tidak setenar pantai Kuta atau Sanur, tapi bagi saya Pantai Suluban yang paling kereeennnn…!! (*koming)
Pas liburan bingung harus kemana, tiba-tiba terlintas keinginan untuk jalan-jalan melihat binatang. Di sekitar dekat kota Denpasar ada tiga pilihan, yaitu di Bali Bird Park, Bali Zoo, dan Bali Safari & Marine Park, ketiganya berlokasi di Kabupaten Gianyar dan kebetulan dekat dari Sanur. Menurut informasi dari teman-teman yang sudah pernah ke sana, Bali Safari & Marine Park adalah tempat yang paling bagus meskipun dengan harga tiket masuk yang lebih mahal. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sana. Lokasinya di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra, Gianyar, kurang lebih 17 km dari Denpasar. Tempat ini berada di tiga desa yakni, Desa Lebih, Desa Serongga, dan Desa Medahan, dengan luas area mencapai 40 hektar. Harga tiket masuknya untuk orang lokal Rp. 75.000 per orang dan kebetulan pada saat itu ada diskon khusus untuk orang Bali karena bertepatan dengan hari raya Hindu, jadi harga tiket masuk yang saya bayar adalah Rp. 50.000 saja.
Memasuki area Bali Safari & Marine Park kita disuguhi berbagai toko yang menjual suvenir, ada juga restoran taman bermain anak, dan kolam ikan. Kita juga dibekali peta area Bali Safari & Marine Park yang didesain menyerupai peta para petualang. Dengan berjalan kaki saya memasuki beberapa tempat binatang yang dibuat agar terlihat bahwa binatang tersebut dibiarkan terlihat bebas berjalan-jalan. Seperti binatang harimau putih yang bebas berkeliaran pada satu area, padahal di sekelilingnya diitari kolam yang tidak memungkinkan harimau tersebut melewatinya. Selanjutnya kita juga dapat melihat gajah, memberinya makan, atau ikut foto bersama. Kita juga dapat menunggangi gajah atau kuda poni berkeliling area persawahan. Selain itu ada juga orang utan yang lucu dan kita juga bisa berfoto bersamanya. Binatang-binatang yang dapat berinteraksi langsung dengan pengunjung hanya binatang yang rata-rata masih berumur muda (anak harimau, anak gajah, anak orang utan) dan tampaknya mereka sudah benar-benar terlatih.
Perjalan dapat dilanjutkan dengan menaiki mobil bis khusus yang nanti pintunya akan terkunci dari luar. Petualangan pertama memasuki area binatang jinak seperti sapi, kuda, burung hantu, burung onta, burung jalak dan semakin jauh kita akan diperlihatkan dengan binatang yang lebih buas. Binatang buas dibuatkan area khusus yang dapat dimasuki melewati pintu khusus yang tertutup. Di sini kita bisa melihat binatang seperti zebra, kuda nil, buaya, babon, badak, singa. Selama perjalanan kita ditemani oleh pemandu di dalam bis. Di area ini terdapat restoran yang dikelilingi dinding kaca yang menampakkan seolah-olah kita makan dikelilingi oleh harimau. Selain itu terdapat pula penginapan seperti di tengah hutan. Binatang-binatang ini tampaknya juga sudah sangat terlatih dan tidak bertingkah seperti binatang liar. Setelah melalui perjalan mengelilingi hutan, kita dapat menyaksikan animal show seperti elephant show, bird show, dan orang utan show. Selain pertunjukan binatang, kita juga bisa menyaksikan pertunjukan budaya seperti tari kecak atau tari barong.
Setelah berkeliling, sebelum pulang saya membeli kenang-kenangan di sana. Banyak sekali ada toko cenderamata, namun semuanya menjual barang yang seragam. Yang ada hanya boneka, baju, topi, patung, dan mainan anak-anak, yang bernuansa taman safari tentunya. Puas rasanya berkeliling selama hampir lima jam di taman safari, dan pas pulangnya tidak lupa mampir makan sate di pantai Lebih. (koming)
Berawal dari keingintahuan bahwa Bali kata orang memiliki jembatan tertinggi di Asia, maka aku melakukan trip ke Jembatan Tukad Bangkung = jembatan tertinggi di asia ? Jembatan ini berlokasi di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Setelah mengunjungi air terjun Nungnung aku melanjutkan perjalanan ke tempat ini.
Jembatan Tukad Bangkung diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006 silam, dengan menandatangani batu prasasti yang diletakkan sebelum memasuki jembatan. Jembatan ini dibangun sejak tahun 2001, dan menghabiskan dana 49 Milyar Rupiah. Ketinggiannya mencapai 71 meter, dengan panjang 360 meter dan lebar 9,6 meter. Jembatan menghubungkan 3 kabupaten sekaligus, yakni, Kabupaten Badung, Bangli dan Buleleng, dan merupakan jembatan terpanjang di Bali. Di setiap ujung jembatan berjejer warung makanan dan merupakan tempat yang pas untuk menyaksikan gagahnya jembatan Tukad Bangkung.
Tidak banyak yang bisa diceritakan dari jembatan ini, mungkin beberapa jepretan foto bisa bercerita lebih banyak. Apakah ini jembatan tertinggi di Asia ? (koming)
mencoba untuk melakukan perubahan hidup, mencari teman dan pengalaman baru, melewati rutinitas, menikmati kehidupan dan mengabadikannya lewat foto dan tulisan. KEEP LEARNING...!!