Archive for October, 2009

Tradisi Makotekan di Desa Munggu

Berawal ketika asyik dengan aktivitas blogwalking, aku tertarik dengan salah satu artikel yang berisikan tradisi makotekan yang ada di Desa Munggu, Mengwi, Badung, Bali. Setelah bertanya-tanya lewat mbah google, ternyata tradisi ini diadakan bertepatan dengan hari raya Kuningan yang dilangsungkan mulai lewat waktu tengah hari sampai sore hari.  Pas hari raya Kuningan tanggal 24 Oktober 2009 lalu, jam setengah empat sore, aku langsung meluncur dari Sanur menuju ke Desa Munggu.

Perjalanan ke sana sungguh menyenangkan, selain jalannya sepi (karena warga pendatang kebanyakan lagi pulkam), di sisi kanan kiri jalan dihiasi ribuan penjor dengan hiasan istimewa, lain dari penjor kebanyakan. Terutama di sepanjang jalan mulai dari Desa Kerobokan, Canggu, hingga ke Munggu. Selain itu sering sekali aku jumpai anak-anak yang sedang ngelawang menarikan tarian barong bangkung. Sesekali aku berhenti atau memperlambat laju motorku untuk menyaksikan tradisi ngelawang ini (maklum, di Sanur jarang ada). Sesampainya di perempatan lampu merah Pantai Seseh, aku terus belok kanan, dan di sana sudah tampak warga yang berkerumun di pinggir jalan yang hendak menyaksikan tradisi mekotekan ini, dan aku lantas turut serta berbaur di dalamnya. Tampaknya tradisi ini belum banyak diketahui oleh masyarakat Bali, karena sepertinya penontonnya hanya dari warga setempat dan dari desa tetangga. Mungkin aku adalah turis yang datang paling jauh… wakakakakak.

Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya acara dimulai. Konon tradisi makotek ini dilakukan untuk menghidarkan desa dari wabah penyakit (grubug). Tampak iring-iringan warga pria remaja dan setengah baya membawa tongkat sejenis kayu pulet sepanjang kurang lebih 3 meter. Sesekali mereka menyatukan tongkat membuat bentuk segitiga kemudian berlari berputar-putar dan berpencar kembali. Tampak juga ada yang menaiki kumpulan tongkat tersebut dan akhirnya terjatuh. Ketika lagi asyik jeprat-jepret dari bawah pohon mangga tiba-tiba mereka mengarahkan kumpulan tongkat itu menuju ke arahku. Untung aku cepat-cepat kabur, ternyata mereka memukul-mukulkan tongkatnya ke pohon mangga itu. Apalagi kebetulan pohon mangganya berbuah, jadilah mereka berebutan ‘ngotek’ buah mangga…hehe…seru juga !! (KomangWiratma™)

Eksotisme Air Terjun Nungnung

Hari minggu agak mendung menjadikan suasana sejuk. Terlintas di pikiran untuk bisa merasakan suasana yang sama di tempat yang alami, bisa di pegunungan atau di mana saja yang penting menyenangkan. Teringat cerita salah seorang teman yang pernah mengunjungi air terjun di Kecamatan Petang, Badung. Kelihatannya seru. Lalu aku searching sebentar di mbah google, ternyata lokasinya di Desa Nungnung, Petang, Badung. Pagi jam sembilan aku isi bensin motor mioku dulu sampai penuh, biar nggak mogok di jalan, maklum boros, lanjut melaju melalui desa Peguyangan terus ke utara.

Desa Nungnung terletak kurang lebih 40 kilometer dari kota Denpasar, perjalanan melewati areal persawahan dan hutan, sangat menyenangkan. Setelah memasuki desa Nungnung aku memperlambat laju motorku dan di sebelah kiri jalan terlihat papan penunjuk arah menuju air terjun Nungnung / Nungnung waterfall, lanjut melaju ke arah kanan kurang lebih 600 meter. Harga tiket masuknya Rp. 3000,- untuk sepeda motor. Setelah parkir motor, lanjut perjalanan menuruni ratusan anak tangga yang berlumut dengan pegangan besi yang sudah keropos. Anak tangganya sangat curam, bahkan ada yang memiliki kemiringan sekitar 75 derajat, kalau turun mesti pegangan, ngeri kelihatannya.

Akhirnya sampai juga pada air terjunnya, awalnya tampak air terjun kecil, di sebelahnya baru terlihat air terjun besar yang memiliki ketinggian kurang lebih 70 meter dari permukaan tanah. Arus airnya saat itu lumayan kencang, hembusan air terjun membasahi tubuh. Untuk mengambil foto pun mata kamera harus sedikit ditutupi tangan agar lensanya tidak terkena hembusan air terjun. Mulailah aku beraksi mengambil gambar air terjun dari berbagai sisi, kebetulan saat itu tidak terlalu ramai, jadi aku bisa mengambil gambar dengan leluasa. Benar-benar mempesona, suara gemericik air yang menghantam bebatuan, hembusan udara sejuk menyelimuti tubuh, dan aliran air dingin melintasi kaki, begitu eksotis.

Waktunya untuk kembali, dan harus menaiki anak tangga yang jumlahnya ratusan itu. Tentunya lebih susah daripada pas menuruninya. Namun anda tidak perlu khawatir, di sepanjang anak tangga disediakan beberapa buah gazebo (bale bengong) sebagai tempat peristirahatan. Sungguh berat rasanya, dan di setiap gazebo aku butuh istirahat, sampai malah sempat tertidur, saking enaknya. Nice trip ! (koming)

Facebook = Voyeurs = Tukang Pamer ?

Voyeurs kalau dicari artinya di kamus online berarti seseorang yang memamerkan obyek yang sensasional. Di Indonesia istilah kerennya narsis (nyambung gak yaa? :) ). Facebook berisikan profil singkat, komentar-komentar tidak penting, dan kebanyakan menampilkan foto-foto empunya. Sempat beberapa lama surfing melihat-lihat foto orang-orang di facebook dengan berbagai gaya dan berbagai latar belakang lokasi. Tampaknya pose yang saat ini paling ngetren adalah pose dengan menempelkan satu jari telunjuk di bibir sambil memonyongkan bibir semonyong-monyongnya. Terlihat keren bukan..? :(

Kalau dipikir-pikir apa tujuannya memasang foto-foto narsis bahkan sampai ratusan jumlahnya di facebook ? Apakah melalui foto-foto itu mereka ingin mengatakan sesuatu ? “hey.. look at me, I look so pretty from this angle”, “ne pacar baru gue, gak jelek-jelek amat khan :) ?” , “inilah fotoku bersama teman-temanku yang keren, lihatlah betapa gaulnya diriku”, “aku sexy bukan ? lihat aja belahan payudaraku ini, bukan maksud pamer lho ! kebetulan aja pas aku lagi foto-foto di waterbom, wajar donk aku pake bikini”, “aku lagi di dalam mobil dan lagi pegang setir, maklum, tajir gitu loch…”, “inilah tempat-tempat keren yang pernah aku kunjungi, bule-bule aja belom pernah ke sini”, “hohohoho…………………..”

Stop being a narcissist..!! Don’t you have more important things to do ??

wakakakakakakakkkkkkk………just for laugh brooo….!! piiisssss… :)

add aku di facebook yaaa… >>  http://www.facebook.com/komangwiratma

Asyiknya Menyusuri Hutan Mangrove

Liburan hari minggu kali ini saya habiskan dengan berjalan-jalan menikmati keindahan hutan mangrove di Desa Suwung Kauh, Denpasar Selatan. Hutan ini berlokasi di tengah kota, kurang dari satu kilometer sebelum Mall Bali Galleria / Simpang Dewa Ruci kalau dicari dari arah Sanur. Di sebelah kiri jalan akan terlihat papan nama bertuliskan ‘The Mangrove Information Centre’.

Menelusuri hutan mangrove dapat kita lalui dengan berjalan kaki menyusuri mangrove trail (jembatan kayu) sepanjang kurang lebih 2 km, yang disekelilingnya tentu saja terdapat pohon mangrove yang rindang. Memasuki hutan ini kita akan merasakan suasana sejuk, sunyi, bebas dari hiruk pikuk perkotaan, bau lumpur laut yang khas, suara burung dan binatang air, membuat suasananya berbeda dari tempat-tempat lain. Orang-orang yang melakukan aktivitas memancing dapat kita jumpai di sini, meskipun tidak begitu banyak. Dan ciri khas yang selalu ada di setiap obyek wisata di Indonesia adalah sampah yang berserakan dan coretan-coretan tangan-tangan jail.

Di tempat ini kita akan melihat beberapa fasilitas seperti tempat persemaian bibit mangrove, kolam sentuh yang merupakan media pembelajaran untuk dapat berinteraksi langsung dengan binatang seperti kepiting, ikan, dan hewan molusca lainnya. Menara pengamat setinggi kurang lebih 10 meter sebagai tempat untuk melihat hutan mangrove dari ketinggian, tempat peristirahatan, dan dermaga di pinggir pantai. (KomangWiratma™)

Pantai Suluban… Kereeennn

Pantai Suluban terletak di dekat pura uluwatu, begitu mulai masuk area pura lalu belok ke kanan. Suluban berasal dari kata ’sulub’ yang berarti berjalan melalui/di bawah sesuatu. Dan benar, untuk memasuki area pantai kita harus memasuki sebuah goa, dan setelah melewatinya kita langsung akan melihat hamparan pantai berpasir putih nan luas. Apalagi jika sore hari, akan tampak panorama sunset dengan langit yang berwarna kemerahan.

Untuk menuju ke pantai, kita harus menuruni beberapa anak tangga. Pantai Suluban dikelilingi oleh tebing-tebing yang tinggi, berpasir putih dengan butiran kasar. Area pasirnya tidak begitu luas, sehingga jika air laut pasang kita akan kesulitan masuk ke pantai. Ombaknya yang tinggi merupakan surga bagi peselancar. Banyak sekali terutama orang asing yang berselancar di sana. Panorama yang menawan menjadikannya sebagai tempat yang elok untuk kegiatan fotografi. Tampaknya belum banyak yang mengetahui keberadaan pantai ini, karena jumlah pengunjungnya tidak begitu ramai. Meskipun tidak setenar pantai Kuta atau Sanur, tapi bagi saya Pantai Suluban yang paling kereeennnn…!! (*koming)