Dua Pemburu dan Seekor Beruang

Dua orang pemburu sedang berburu bersama. Tiba-tiba muncul seekor beruang besar menghadang. Mereka tak sempat mempersiapkan diri. Salah seorang pemburu segera lagi memanjat pohon dan berdiam mendekam di dahan erat-erat. Melihat dirinya yang akan diserang beruang itu, pemburu yang lain segera menjatuhkan diri ke tanah. Ketika beruang mendatangi dan mendengus-dengus seluruh tubuhnya, pemburu itu menahan nafas selama mungkin. Ia pura-pura mati.

Tak lama beruang itu meninggalkannya. Pikirnya, “Aku tak mau memangsa orang yang sudah mati.”

Ketika situasi sudah tenang, pemburu pertama turun dari pohon dan mengolok – olok pemburu yang berpura-pura mati, “Kawan, apa yang dikatakan oleh tuan beruang tadi padamu.”

“Oh tuan beruang itu memberikan nasehat padaku,” jawab pemburu kedua. “Jangan pernah berburu dengan orang yang membiarkan kau terancam dan tak menolongmu dari bahaya.

Smiley…! Kata orang bijak, “Musibah adalah batu ujian bagi persahabatan”

Fabel Aesop (George Flyer Twonsend)

Dari Ujung Tanjung Benoa Bali

Tanjung Benoa adalah sebuah daratan yang menjorok ke tengah laut yang berada di sebelah tenggara pulau Bali bersebelahan dengan Nusa Dua. Daerah ini terkenal dengan wisata watersport-nya seperti parasailing, jetski, banana boat, flying fish. Kecuali surfing, karena ombaknya relatif tenang, jadi tidak cocok sebagai tempat surfing.

Di sepanjang pesisir pantai Tanjung Benoa ini telah dipenuhi oleh bangunan hotel bintang lima, dan berbagai sarana penunjang pariwisata, termasuk banyak sekali penyedia jasa wisata tirta (watersport). Di ujung pulau ini terdapat area menyerupai dermaga tempat berlabuhnya kapal boat dan terdapat pula SPBU pengisian bahan bakar kapal boat. Dari sini kita juga dapat melihat kapal-kapal yang berlabuh di kawasan pabean Benoa. Karena tanjung ini menghadap ke utara, maka dari pantai ini kita dapat melihat pemandangan sunset di sore hari sekaligus menyaksikan sunrise di pagi hari. Sayangnya saya tidak dapat melihat kedua-duanya, karena saya ke sana agak siang. :) (KomangWiratma™)

Jalan-Jalan ke Tengah Sawah di Jatiluwih

Jatiluwih merupakan daerah hamparan sawah berundak-undak (terasering) yang sangat luas, yang terletak di Penebel, Tabanan, Bali. Saking luasnya, area persawahan ini sempat dinominasikan sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (UNESCO World Heritage). Sumber airnya dari beberapa bendungan dengan menggunakan sistem tradisional Subak.

Memasuki daerah Jatiluwih yang berhawa sejuk dari kejauhan kita akan menyaksikan pemandangan sawah nan indah dengan latar belakang gunung Batukaru. Di pinggiran jalan kita jumpai sungai dengan air yang sangat jernih dan dingin. Tempat ini sangat pas buat foto-foto dan aku juga sempat mengabadikannya lewat video. (KomangWiratma™)

Tradisi Makotekan di Desa Munggu

Berawal ketika asyik dengan aktivitas blogwalking, aku tertarik dengan salah satu artikel yang berisikan tradisi makotekan yang ada di Desa Munggu, Mengwi, Badung, Bali. Setelah bertanya-tanya lewat mbah google, ternyata tradisi ini diadakan bertepatan dengan hari raya Kuningan yang dilangsungkan mulai lewat waktu tengah hari sampai sore hari.  Pas hari raya Kuningan tanggal 24 Oktober 2009 lalu, jam setengah empat sore, aku langsung meluncur dari Sanur menuju ke Desa Munggu.

Perjalanan ke sana sungguh menyenangkan, selain jalannya sepi (karena warga pendatang kebanyakan lagi pulkam), di sisi kanan kiri jalan dihiasi ribuan penjor dengan hiasan istimewa, lain dari penjor kebanyakan. Terutama di sepanjang jalan mulai dari Desa Kerobokan, Canggu, hingga ke Munggu. Selain itu sering sekali aku jumpai anak-anak yang sedang ngelawang menarikan tarian barong bangkung. Sesekali aku berhenti atau memperlambat laju motorku untuk menyaksikan tradisi ngelawang ini (maklum, di Sanur jarang ada). Sesampainya di perempatan lampu merah Pantai Seseh, aku terus belok kanan, dan di sana sudah tampak warga yang berkerumun di pinggir jalan yang hendak menyaksikan tradisi mekotekan ini, dan aku lantas turut serta berbaur di dalamnya. Tampaknya tradisi ini belum banyak diketahui oleh masyarakat Bali, karena sepertinya penontonnya hanya dari warga setempat dan dari desa tetangga. Mungkin aku adalah turis yang datang paling jauh… wakakakakak.

Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya acara dimulai. Konon tradisi makotek ini dilakukan untuk menghidarkan desa dari wabah penyakit (grubug). Tampak iring-iringan warga pria remaja dan setengah baya membawa tongkat sejenis kayu pulet sepanjang kurang lebih 3 meter. Sesekali mereka menyatukan tongkat membuat bentuk segitiga kemudian berlari berputar-putar dan berpencar kembali. Tampak juga ada yang menaiki kumpulan tongkat tersebut dan akhirnya terjatuh. Ketika lagi asyik jeprat-jepret dari bawah pohon mangga tiba-tiba mereka mengarahkan kumpulan tongkat itu menuju ke arahku. Untung aku cepat-cepat kabur, ternyata mereka memukul-mukulkan tongkatnya ke pohon mangga itu. Apalagi kebetulan pohon mangganya berbuah, jadilah mereka berebutan ‘ngotek’ buah mangga…hehe…seru juga !! (KomangWiratma™)

Eksotisme Air Terjun Nungnung

Hari minggu agak mendung menjadikan suasana sejuk. Terlintas di pikiran untuk bisa merasakan suasana yang sama di tempat yang alami, bisa di pegunungan atau di mana saja yang penting menyenangkan. Teringat cerita salah seorang teman yang pernah mengunjungi air terjun di Kecamatan Petang, Badung. Kelihatannya seru. Lalu aku searching sebentar di mbah google, ternyata lokasinya di Desa Nungnung, Petang, Badung. Pagi jam sembilan aku isi bensin motor mioku dulu sampai penuh, biar nggak mogok di jalan, maklum boros, lanjut melaju melalui desa Peguyangan terus ke utara.

Desa Nungnung terletak kurang lebih 40 kilometer dari kota Denpasar, perjalanan melewati areal persawahan dan hutan, sangat menyenangkan. Setelah memasuki desa Nungnung aku memperlambat laju motorku dan di sebelah kiri jalan terlihat papan penunjuk arah menuju air terjun Nungnung / Nungnung waterfall, lanjut melaju ke arah kanan kurang lebih 600 meter. Harga tiket masuknya Rp. 3000,- untuk sepeda motor. Setelah parkir motor, lanjut perjalanan menuruni ratusan anak tangga yang berlumut dengan pegangan besi yang sudah keropos. Anak tangganya sangat curam, bahkan ada yang memiliki kemiringan sekitar 75 derajat, kalau turun mesti pegangan, ngeri kelihatannya.

Akhirnya sampai juga pada air terjunnya, awalnya tampak air terjun kecil, di sebelahnya baru terlihat air terjun besar yang memiliki ketinggian kurang lebih 70 meter dari permukaan tanah. Arus airnya saat itu lumayan kencang, hembusan air terjun membasahi tubuh. Untuk mengambil foto pun mata kamera harus sedikit ditutupi tangan agar lensanya tidak terkena hembusan air terjun. Mulailah aku beraksi mengambil gambar air terjun dari berbagai sisi, kebetulan saat itu tidak terlalu ramai, jadi aku bisa mengambil gambar dengan leluasa. Benar-benar mempesona, suara gemericik air yang menghantam bebatuan, hembusan udara sejuk menyelimuti tubuh, dan aliran air dingin melintasi kaki, begitu eksotis.

Waktunya untuk kembali, dan harus menaiki anak tangga yang jumlahnya ratusan itu. Tentunya lebih susah daripada pas menuruninya. Namun anda tidak perlu khawatir, di sepanjang anak tangga disediakan beberapa buah gazebo (bale bengong) sebagai tempat peristirahatan. Sungguh berat rasanya, dan di setiap gazebo aku butuh istirahat, sampai malah sempat tertidur, saking enaknya. Nice trip ! (koming)

Facebook = Voyeurs = Tukang Pamer ?

Voyeurs kalau dicari artinya di kamus online berarti seseorang yang memamerkan obyek yang sensasional. Di Indonesia istilah kerennya narsis (nyambung gak yaa? :) ). Facebook berisikan profil singkat, komentar-komentar tidak penting, dan kebanyakan menampilkan foto-foto empunya. Sempat beberapa lama surfing melihat-lihat foto orang-orang di facebook dengan berbagai gaya dan berbagai latar belakang lokasi. Tampaknya pose yang saat ini paling ngetren adalah pose dengan menempelkan satu jari telunjuk di bibir sambil memonyongkan bibir semonyong-monyongnya. Terlihat keren bukan..? :(

Kalau dipikir-pikir apa tujuannya memasang foto-foto narsis bahkan sampai ratusan jumlahnya di facebook ? Apakah melalui foto-foto itu mereka ingin mengatakan sesuatu ? “hey.. look at me, I look so pretty from this angle”, “ne pacar baru gue, gak jelek-jelek amat khan :) ?” , “inilah fotoku bersama teman-temanku yang keren, lihatlah betapa gaulnya diriku”, “aku sexy bukan ? lihat aja belahan payudaraku ini, bukan maksud pamer lho ! kebetulan aja pas aku lagi foto-foto di waterbom, wajar donk aku pake bikini”, “aku lagi di dalam mobil dan lagi pegang setir, maklum, tajir gitu loch…”, “inilah tempat-tempat keren yang pernah aku kunjungi, bule-bule aja belom pernah ke sini”, “hohohoho…………………..”

Stop being a narcissist..!! Don’t you have more important things to do ??

wakakakakakakakkkkkkk………just for laugh brooo….!! piiisssss… :)

add aku di facebook yaaa… >>  http://www.facebook.com/komangwiratma

Asyiknya Menyusuri Hutan Mangrove

Liburan hari minggu kali ini saya habiskan dengan berjalan-jalan menikmati keindahan hutan mangrove di Desa Suwung Kauh, Denpasar Selatan. Hutan ini berlokasi di tengah kota, kurang dari satu kilometer sebelum Mall Bali Galleria / Simpang Dewa Ruci kalau dicari dari arah Sanur. Di sebelah kiri jalan akan terlihat papan nama bertuliskan ‘The Mangrove Information Centre’.

Menelusuri hutan mangrove dapat kita lalui dengan berjalan kaki menyusuri mangrove trail (jembatan kayu) sepanjang kurang lebih 2 km, yang disekelilingnya tentu saja terdapat pohon mangrove yang rindang. Memasuki hutan ini kita akan merasakan suasana sejuk, sunyi, bebas dari hiruk pikuk perkotaan, bau lumpur laut yang khas, suara burung dan binatang air, membuat suasananya berbeda dari tempat-tempat lain. Orang-orang yang melakukan aktivitas memancing dapat kita jumpai di sini, meskipun tidak begitu banyak. Dan ciri khas yang selalu ada di setiap obyek wisata di Indonesia adalah sampah yang berserakan dan coretan-coretan tangan-tangan jail.

Di tempat ini kita akan melihat beberapa fasilitas seperti tempat persemaian bibit mangrove, kolam sentuh yang merupakan media pembelajaran untuk dapat berinteraksi langsung dengan binatang seperti kepiting, ikan, dan hewan molusca lainnya. Menara pengamat setinggi kurang lebih 10 meter sebagai tempat untuk melihat hutan mangrove dari ketinggian, tempat peristirahatan, dan dermaga di pinggir pantai. (KomangWiratma™)

Pantai Suluban… Kereeennn

Pantai Suluban terletak di dekat pura uluwatu, begitu mulai masuk area pura lalu belok ke kanan. Suluban berasal dari kata ’sulub’ yang berarti berjalan melalui/di bawah sesuatu. Dan benar, untuk memasuki area pantai kita harus memasuki sebuah goa, dan setelah melewatinya kita langsung akan melihat hamparan pantai berpasir putih nan luas. Apalagi jika sore hari, akan tampak panorama sunset dengan langit yang berwarna kemerahan.

Untuk menuju ke pantai, kita harus menuruni beberapa anak tangga. Pantai Suluban dikelilingi oleh tebing-tebing yang tinggi, berpasir putih dengan butiran kasar. Area pasirnya tidak begitu luas, sehingga jika air laut pasang kita akan kesulitan masuk ke pantai. Ombaknya yang tinggi merupakan surga bagi peselancar. Banyak sekali terutama orang asing yang berselancar di sana. Panorama yang menawan menjadikannya sebagai tempat yang elok untuk kegiatan fotografi. Tampaknya belum banyak yang mengetahui keberadaan pantai ini, karena jumlah pengunjungnya tidak begitu ramai. Meskipun tidak setenar pantai Kuta atau Sanur, tapi bagi saya Pantai Suluban yang paling kereeennnn…!! (*koming)

Tujuan Agama Hindu Vs Teori Bola Lampu

Tujuan akhir agama hindu adalah untuk mencapai moksa. Moksa berarti kebahagiaan yang kekal abadi, artinya terbebas dari siklus reinkarnasi, terbebas dari pengaruh nafsu material, dan terbebas dari suka-duka. Ketika manusia mencapai moksa maka bisa dikatakan ia telah menjadi dewa. Dewa berasal dari kata ‘div’ yang artinya cahaya / sinar suci Tuhan. Manusia hidup di dunia selalu berada pada dua kutub yang berbeda, positif-negatif, suka-duka, baik-buruk, lahir-mati, dst. Untuk dapat menyatu dengan sinar suci Tuhan, manusia harus mampu melepaskan diri dari ikatan positif-negatif tersebut. Artinya kejadian apapun yang dialaminya, tidak akan menimbulkan reaksi positif maupun negatif, tetapi berada diantaranya. Orang yang berlatih yoga atau meditasi dapat merasakan hal ini. Ketika bermeditasi, pikiran berada pada satu fokus perhatian sehingga pikiran dan badan dapat beristirahat total. Saat itu yang ada hanyalah kehampaan, ketenangan, dan itu bukanlah sifat material yang positif maupun negatif. Ketika kondisi itu tercapai badan akan terasa hangat. Konon, jika saat meninggal kita mampu mencapai kondisi tersebut, maka kita akan mampu menyatu dengan cahaya / sinar suci Tuhan.

Lalu apa hubungannya dengan teori bola lampu Thomas Alfa Edison ?

Thomas Alfa Edison melakukan ribuan kali percobaan untuk menciptakan bola lampu pijar. Bola lampu supaya dapat menyala harus dialiri listrik yang bersifat positif dan negatif. Dalam bola lampu terdapat komponen berupa dua buah kawat yang pada kedua bagian ujungnya dihubungkan ke sirkuit listrik. Kedua kawat tersebut dihubungkan oleh sebuah filamen berbentuk gulungan kumparan. Kawat dan filamen ini diselubungi oleh bola kaca pada ruangan hampa yang didalamnya dipenuhi gas argon, neon, nitrogen (inert gas). Inert gas ini bertekanan rendah dan tidak dapat menghantarkan listrik. Ketika lampu dinyalakan, arus listrik akan melewati kawat penghubung menuju filamen, dan listrik akan memanaskan atom-atom yang terdapat pada filamen. Atom-atom ini jika dipanaskan pada temperatur tertentu akan menghasilkan sinar infrared, dan sinar / cahaya muncul pada gulungan filamen diantara dua kawat positif-negatif.

Begitulah kira-kira hubungan antara tujuan agama hindu dengan teori bola lampu pijar, nyambung gak yaa.. ? :) Soalnya ini bisa-bisanya aku saja yang menghubung-hubungkannya sendiri. :( Sorry kalau ada salah-salah, hehehe…. ( © komangwiratma )

Merasakan Hutan Modern di Taman Safari


Pas liburan bingung harus kemana, tiba-tiba terlintas keinginan untuk jalan-jalan melihat binatang. Di sekitar dekat kota Denpasar ada tiga pilihan, yaitu di Bali Bird Park, Bali Zoo, dan Bali Safari & Marine Park, ketiganya berlokasi di Kabupaten Gianyar dan kebetulan dekat dari Sanur. Menurut informasi dari teman-teman yang sudah pernah ke sana, Bali Safari & Marine Park adalah tempat yang paling bagus meskipun dengan harga tiket masuk yang lebih mahal. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sana. Lokasinya di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra, Gianyar, kurang lebih 17 km dari Denpasar. Tempat ini berada di tiga desa yakni, Desa Lebih, Desa Serongga, dan Desa Medahan, dengan luas area mencapai 40 hektar. Harga tiket masuknya untuk orang lokal Rp. 75.000 per orang dan kebetulan pada saat itu ada diskon khusus untuk orang Bali karena bertepatan dengan hari raya Hindu, jadi harga tiket masuk yang saya bayar adalah Rp. 50.000 saja.

Memasuki area Bali Safari & Marine Park kita disuguhi berbagai toko yang menjual suvenir, ada juga restoran taman bermain anak, dan kolam ikan. Kita juga dibekali peta area Bali Safari & Marine Park yang didesain menyerupai peta para petualang. Dengan berjalan kaki saya memasuki beberapa tempat binatang yang dibuat agar terlihat bahwa binatang tersebut dibiarkan terlihat bebas berjalan-jalan. Seperti binatang harimau putih yang bebas berkeliaran pada satu area, padahal di sekelilingnya diitari kolam yang tidak memungkinkan harimau tersebut melewatinya. Selanjutnya kita juga dapat melihat gajah, memberinya makan, atau ikut foto bersama. Kita juga dapat menunggangi gajah atau kuda poni berkeliling area persawahan. Selain itu ada juga orang utan yang lucu dan kita juga bisa berfoto bersamanya. Binatang-binatang yang dapat berinteraksi langsung dengan pengunjung hanya binatang yang rata-rata masih berumur muda (anak harimau, anak gajah, anak orang utan) dan tampaknya mereka sudah benar-benar terlatih.

Perjalan dapat dilanjutkan dengan menaiki mobil bis khusus yang nanti pintunya akan terkunci dari luar. Petualangan pertama memasuki area binatang jinak seperti sapi, kuda, burung hantu, burung onta, burung jalak dan semakin jauh kita akan diperlihatkan dengan binatang yang lebih buas. Binatang buas dibuatkan area khusus yang dapat dimasuki melewati pintu khusus yang tertutup. Di sini kita bisa melihat binatang seperti zebra, kuda nil, buaya, babon, badak, singa. Selama perjalanan kita ditemani oleh pemandu di dalam bis. Di area ini terdapat restoran yang dikelilingi dinding kaca yang menampakkan seolah-olah kita makan dikelilingi oleh harimau. Selain itu terdapat pula penginapan seperti di tengah hutan. Binatang-binatang ini tampaknya juga sudah sangat terlatih dan tidak bertingkah seperti binatang liar. Setelah melalui perjalan mengelilingi hutan, kita dapat menyaksikan animal show seperti elephant show, bird show, dan orang utan show. Selain pertunjukan binatang, kita juga bisa menyaksikan pertunjukan budaya seperti tari kecak atau tari barong.

Setelah berkeliling, sebelum pulang saya membeli kenang-kenangan di sana. Banyak sekali ada toko cenderamata, namun semuanya menjual barang yang seragam. Yang ada hanya boneka, baju, topi, patung, dan mainan anak-anak, yang bernuansa taman safari tentunya. Puas rasanya berkeliling selama hampir lima jam di taman safari, dan pas pulangnya tidak lupa mampir makan sate di pantai Lebih. (koming)