SID, Melawan Pembodohan
Posted by KomangWiratma™Feb 8

Superman Is Dead, grup band beraliran punk rock asal Bali telah berhasil menancapkan namanya sebagai salah satu grup band papan atas di industri musik Indonesia. Band ini berdiri pada tahun 1995 beranggotakan Bobby Kool, Eka Rock, Jerinx dan telah mengeluarkan tiga album indie sebelum dikontrak major label Sony Music Indonesia. Langkah fenomenal mereka mulai pada album pertama mereka bersama major label yang berjudul Kuta Rock City dengan lagu unggulan Punk Hari Ini yang membuka mata hati industri musik tanah air karena liriknya penuh dengan kritik tajam tentang kondisi musik di Indonesia serta kritikan terhadap gaya hidup masyarakatnya yang suka meniru sesuatu yang tidak pasti.
Superman Is Dead (SID) telah menjungkirbalikkan pakem yang selama ini banyak musisi anut, bahwa untuk bisa sukses harus membawakan lagu bertemakan cinta, beraliran musik pop komersil atau melayu, tinggal di Jakarta, dan sering muncul di TV walaupun sekedar lewat infotainment. SID kemunculannya di industri musik komersil malah mengusung aliran punk rock, dengan lirik lagu penuh kritik sosial dan lingkungan, tinggal di Bali dan jarang muncul di TV, namun sukses meraih beberapa penghargaan. Meskipun jarang dipublikasikan media namun SID tetap menunjukkan eksistensinya dengan prestasi positif tentunya. Mereka pernah manggung di beberapa kota di Australia, diundang dalam festival musik punk terbesar di dunia ‘Vans Warped Tour’ di Amerika (SID band Indonesia pertama dan band Asia kedua yang berhasil menembus festival ini), dan terakhir mereka manggung di Singapura bersamaan dengan hari manggungnya Green Day di sana. Kalau band lokal Indonesia lainnya kalau manggung di Malaysia saja beritanya sudah lantas muncul jor-joran di TV.
Lirik lagu mereka yang penuh dengan kritik sosial, kecintaan terhadap lingkungan, anti keseragaman dan perjuangan hak kaum minoritas yang selama ini selalu tersingkirkan, bukan hanya sekedar lirik lagu di atas kertas. Kehidupan riil mereka begitulah adanya. Mereka sering mengadakan acara yang bertemakan lingkungan, minimal dengan mengajak masyarakat untuk bersama-sama memunguti sampah plastik, atau bersepeda mengelilingi kota sebagai bentuk kampanye anti global warming, serta menentang hadirnya UU anti pornografi yang merupakan salah satu bentuk upaya penyeragaman budaya masyarakat. Ini bentuk keteladanan yang patut ditiru oleh band-band lainnya. Tidak sekedar menulis lirik lagu cinta, seolah-olah paling mengerti apa itu cinta, tapi malah selingkuh lalu cerai.
Kesimpulannya SID adalah sebuah band yang memiliki idealisme dengan misi melawan ketakpedulian, fasisme, diskriminasi, peperangan, budaya kekerasan, materialisme, dan pembodohan. Bukan sekedar band yang pergi ke Jakarta untuk mencari makan dan diperbudak oleh selera pasar komersil. Mereka berjuang untuk kaum yang tersisih dan terlupakan, melawan dunia yang penuh kebencian dengan cinta. Harapannya, tidak ada lagi kaum minoritas yang selalu ditekan, tidak ada lagi kaum mayoritas yang arogan dan memaksakan kehendak. Bersatu di dalam perbedaan dengan saling menghargai. Unity in diversity. Cheers…!!























